
Salam sastra
Salam sejahtera untuk kita semua
Menatap pendidikan tinggi dewasa ini seperti memandang awan gelap; terasa kelam dan menakutkan. Sistem pendidikan yang kapitalistik dan selalu berorientasi pada industri, menyebabkan bergesernya paradigma menyangkut hakikat pendidikan itu sendiri.
Alih-alih menjadi ruang untuk menempa akal dan jiwa seperti yang dituahkan Tan Malaka, pendidikan justru menjadi arena pertarungan kecakapan teknis.
Mahasiswa berlomba-lomba mengikuti seminar, lokakarya, pelatihan skill demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya piagam. Tujuannya jelas, agar mudah diterima perusahaan dan menjadi mesin hidup industri.
Kenyataan itu, tidak hanya mengkhianati hakikat pendidikan itu sendiri, tapi juga mengangkangi fitrah manusia yang bebas dan lepas dari kekangan produk industri.
Implikasinya apa? Tentunya kenyataan pahit itu berimbas kepada psikologis manusia dalam konteks ini mahasiswa. Tak sedikit mereka merasa ciut dan cemas menatap masa depan. Hari esok seolah-olah hanyalah milik mereka yang punya banyak piagam, tapi nihil jiwa dan akal.
Berangkat dari keresahan itu, UKM RUSA FS UNW Mataram menggelar pameran lukisan bertajuk “SERUPA: Senjakala, Rasa, dan Kita” sebagai bentuk ekspresi kesenian.
Melalui tajuk itu, Pelukis dalam pameran ini mencoba mengeksplorasi perasaan-perasaan tak kasat mata mahasiswa yang getir lewat lukisan yang satir.
Selain pameran, kami juga menghadirkan penampilan ekspresif melalui panggung musik dan kesenian.
Salam sastra
